Bagaimana Mendidik Anak Cerdas…?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Adin Suryadin,Psi,M.Si

       Mempunyai anak cerdas  tentunya sangat kita harapkan. Banyak dari para orang tua dengan berbagai upaya mempersiapkan dan mendidik anaknya agar menjadi cerdas dalam berbagai bidang yang diminatinya, karena dengan mempunyai anak yang cerdas orang tua merasa akan mudah mendidik anaknya untuk meraih sukses dan berprestasi baik dalam akademis maupun bidang-bidang  lainnya.

Apa sih kecerdasan itu..?

Kecerdasan yang dalam bahasa ilmiah disebut inteligensi adalah merupakan kemampuan umum seseorang dalam menyesuaikan diri dan memecahkan masalah hidupnya. Tingkat kecerdasan seseorang itu berbeda–beda antara yang satu dan yang lainnya, dan aspek kecerdasan juga sangat majemuk. Adapun hasil pengukuran inteligensi dinamakan IQ  (Inteligensi Quation). Dimana IQ ini merupakan skor pengelompokan kemampuan seseorang dengan dikorelasikan kemampuan rata-rata orang dalam kelompok usianya (Binet Simon). Jadi IQ ini melihat bagaimana kemampuan seseorang bila dibandingkan dengan rata-rata kemampuan teman dalam kelompok usianya.

Berbagai macam alat pengukuran tes inteligensi (ada Binet Simon, WISC, WAIS, CPM, TIU, IST dan lain-lain)  yang hampir semua alat tes inteligensi itu menekankan hanya pada aspek kognisi intelektual yang banyak mengukur aspek linguistik verbal dan logika matematis. Kemampuan ini sangat berkorelasi dengan bidang akademis. Sehingga yang dikatakan orang  mempunyai IQ tinggi yaitu orang yang mempunyai kemampuan dan prestasi dalam bidang akademis saja. Padahal menurut Howard Gardner ( tokoh teori Multiple Inteligensi) kecerdasan itu majemuk yang terdiri dari : kecerdasan linguistik, kecerdasan logika matematika, kecerdasan kinestetik, kecerdasan visual spatial, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpesonal, kecerdasan naturalis, kecerdasan eksistensial dan kecerdasan Spiritual. Jadi menurut teori Multiple Inteligensi ini anak yang cerdas yang mempunyai skor tinggi pada semua aspek kecerdasan diatas. Tentunya sangat jarang sekali, dengan demikian setiap anak mempunyai potensi kecerdasan yang luar biasa yang bisa digali dari berbagai sisi kecerdasan. Dan setiap anak akan mempunyai kelebihan kecerdasan dalam bidang yang berbeda, maka menurut Howard Gardner tidak ada anak yang bodoh, yang ada  anak yang belum bisa menemukan potensi bidang kemampuannya.

Strategi Pendidikan yang bagaimana untuk meningkatkan kecerdasan anak menurut teori Multiple Inteligensi?, karena faktor yang mempengaruhi inteligensi bukan hanya genetic saja, melainkan gizi makanan, pengaruh lingkungan terutama dari orang tua dan sekolah juga sangat menentukan. Ada beberapa tips yang bisa dilakukan orang tua untuk mengembangkan kecerdasan majemuk pada setiap aspek kecerdasan menurut Howard Gardner :

 

Mengembangkan Kecerdasan Linguistik Pada Anak

Kecerdasan linguistik yaitu kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan pemahaman bahasa, perbendaharaan kata, sistematika berbicara dan kemampuan berkomunikasi. Untuk mengembangkan kecerdasan ini ada beberapa cara misalnya dengan sering kita mengajak bercakap-cakap dengan anak, kita biasakan memberi pertanyaan kepada anak dengan bahasa terbuka  “ada apa mas andi..?, kenapa kok melakukan itu..? coba terangkan pada ibu bagaimana ceritanya..? bagaimana menurut mas andi kalau ibu membuat mainan ini?”. Dengan komunikasi seperti di atas akan membuka dan memberi kesempatan pada anak untuk menerangkan sesuai kemampuannya, maka otak linguistik akan terstimulasi dan berkembang lebih baik dalam berkomunikasi.

Selanjutnya bisa dikembangkan melatih anak agar mempunyai inisiatif bertanya kalau ada sesuatu yang belum diketahuinya. Coba tanyakan lagi tadi apa yang disampaikan oleh bapak penjual tadi..?, besok coba tanyakan sama ustadzah kenapa makanan yang dihinggapi lalat bisa menyebabkan sakit perut bila kita makan, dan lain-lain.  Dengan kita sering menstimulasi anak untuk anak berinisiatif bertanya maka ia akan mempunyai kepekaan untuk mengkritisi apa yang belum tahu atau kalau ada sesuatu yang berbeda dengan pendapatnya dengan bertanya pada lingkungan sekitarnya.

Anak-anak sangat senang dengan cerita, dengan kita sering bercerita sesuatu pada anak baik dengan dibacakan atau kita membuat cerita sendiri baik yang faktual ataupun cerita fiksi, maka akan menambah referensi perbendaharaan kata pada anak. Diharapkan dengan kita bercerita pada anak, anak akan  termotivasi rasa ingin tahu untuk terus mencari dengan membaca cerita tersebut atau bertanya pada lingkungan sekitar tentang cerita tersebut. Maka dalam bercerita kadang kita memberi pertanyaan dan tugas pada anak untuk menyelesaikannya atau ceritanya tidak diselesaikan ditengah-tengah klimaknya dan selanjutnya anak akan mencari buku ceritanya.

Ajak anak-anak bermain peran. Karena dengan bermain peran anak akan merasakan bagaimana jadi orang lain selain dirinya, hal ini sangat sesuai untuk anak usia TK (4-6 tahun) yang masih bersifat egosentris sehingga akan muncul kemampuan empatinya, dalam bermain peran bisa sebagai binatang yang menang misalnya ia sebagai harimau menangkap anda yang menjadi kambingnya, permainan ini akan membuat anak percaya diri dan berani, selanjutnya bisa juga sebaliknya anda yang menjadi harimau yang akan mengejar dan menangkap kambing, permainan ini akan membuat anak bagaimana berusaha menghindar dari terkaman yang lebih kuat. Bisa juga dilanjutkan dengan bermain pasar-pasaran dan bermain jadi ayah untuk anak laki-laki, jadi ibu untuk anak perempuan, jadi dokter, polisi dan sebagainya.

Memperdengarkan lagu atau dongeng anak-anak akan menstimulasi kecerdasan linguistik anak. Dengan lagu-lagu atau musik yang sesuai dengan gelombang otak anak dan situasi kondisi emosi anak otak menjadi seimbang dalam beraktifitas. Misalnya dalam keadaan anak sedang bermain sebaiknya musik yang rancak dan riang bisa diperdengarkan, pada saat belajar musik klasik sangat sesuai diperdengarkan karena akan membuat otak tetap berada di zona alfa yaitu tenang namun penuh perhatian, pada saat istirahat atau tidur bisa diperdengarkan musik yang tenang, rileks, iramanya bergelombang halus mendayu yang akan membuat otak dalam keadaan relaksasi. Sedangkan dengan sering diperdengarkan dongeng akan menambah perbendaharaan kata anak. Dongeng yang baik tentunya dari kita orang tuanya atau dari pendongeng yang professional karena dengan mendengar dan melihat dongeng anak juga akan belajar mengenal berbagai ekspresi dan perilaku orang lain.

Mengisi buku harian dan menulis surat pada teman, ajaklah anak untuk menuliskan kegiatan sehari-harinya. Mulailah dengan menuliskan kegiatan di rumah pada setiap sore pulang sekolah atau pagi hari sebelum berangkat sekolah, kemudian bisa menuliskan cerita liburan dan lain-lain. Dengan menuliskan kegiatan sehari-hari secara menyenangkan maka otak anak akan terbiasa me-recall beberapa kegiatan dengan bahasa berupa tulisan. Bisa juga dikembangkan dengan mencoba menulis surat pada saudara atau teman yang jauh.

Dalam melakukan kegiatan di atas tidak harus urut tapi bisa dilakukan menyesuaikan kondisi emosi anak, usia, dan lingkungan sekitarnya. Yang paling utama tetap diberikan dengan bervariasi dan menyenangkan…selamat mencoba.

Bulan depan insyaAllah kita lanjutkan “ mengembangkan kecerdasan logika-matematika pada anak”

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *