SEMINAR DAN SMART PARENTING bersama Ustadaz DR. H. WIJAYANTO, MA.

PARENTING ISLAMI

KEUTAMAAN DALAM MENDIDIK ANAK

OLEH : USTADZ H. DR. WIJAYANTO, MA

 

 

  1. TARBIYAH ISLAMI BAGI ANAK

Parenting Islami itu sangat membumi bila ditelusuri, Parenting Islami itu sudah dari awal menerapkan metode indah bergaul dengan jiwa dan raga manusia secara menyeluruh. Sejak sebelum terbentuknya embrio, sudah ada tuntunan bagaimana menjaga jiwa yang akan terlahirkan nanti.

Selama masa kehamilan, orang tua hendaknya menjaga sikap dan perilakunya. Sebenarnya bila dipopulerkan, maka terlebih dahulu akan ada bayi Alquran karena sejak dalam kandungan diperdengarkan nada-nada suci nan syahdu, bukannya bayi Mozart. Membaca Alquran secara tartil akan terdengar lebih indah dibandingkan musik klasik yang terkadang agak sulit mencerna maknanya.

Setelah lahir, orang tua tidak usah bingung mencari buku-buku cerita untuk mengantarkan si kecil tidur. Dalam Alquran begitu banyak kisah tentang hewan, seperti kisah bani Israel yang berubah menjadi monyet karena keserakahannya. Atau kisah sapi betina yang mengajarkan bahwa terkadang untuk mempermudah urusan, kita tidak harus banyak bertanya. Karena bisa jadi pertanyaan kita hanyalah akan mempersulit hidup kita.

 

Banyak hal yang bisa diajarkan kepada anak-anak melalui kegiatan sehari-hari, misalnya sebagai berikut:

 

  1. Mengajarkan kedisiplinan melalui jadwal
  2. Bangun pagi dan berolahraga melalui shalat shubuh berjamaah ke
  3. Memberikan contoh tenggang rasa melalui shalat zuhur dan ashar. Imam shalat zuhur dan ashar tidak mengeraskan suara agar tidak mengganggu orang lain yang sedang beristirahat.
  4. Setelah subuh dilarang tidur lagi karena rezeki itu dimulai pada pagi hari. Hal ini akan membuat anak paham betapa pentingnya memulai aktivitas kehidupan secepat mungkin. Ini akan mengajarkan kepadanya agar tidak menjadi pemalas.
  5. Bercengkerama setelah shalat isya. Sebelum sibuk dengan urusan masing-masing, sempatkan mengobrol sejenak.
  6. Belajar mengetahui tentang manusia dari rutinitas shalat. Mengapa shalat 5 kali sehari? Manusia itu tempatnya lupa, jadi Allah membuat aktivitas shalat sebagai pengingat.
  7. Waktu shalat, waktu mengendurkan urat saraf yang tegang. Air wudu mampu menyegarkan tubuh yang terpapar AC dalam waktu yang lama. Gerakan shalat membuat kelenturan tubuh kembali lagi sehingga otak bisa berpikir lebih cepat.
  8. Memperlihatkan bahwa bentuk bumi ini bulat dari perbedaan siang dan malam di belahan bumi yang berbeda.
  9. Belajar sains dari Alquran. Misalnya, tentang keteraturan gerak masing-masing planet.
  10. Belajar matematika dari Alquran. Contohnya, keajaiban angka 19 dalam Alquran, berapa kali nama Allah disebut, berapa kali Muhammad di sebut, jumlah ayat, jumlah surat, dan lain-lain.

 

Dengan kata lain, begitu banyak hal yang bisa diajarkan kepada

 

anak melalui shalat dan Alquran. Kaitan semua yang ada dengan apa yang terjadi di sekitar kita. Inilah bukti bahwa betapa parenting Islami itu sangat membumi.

 

Di dalam mendidik anak Terdapat berbagai macam pola asuh orang tua, Semua tentu memiliki tujuan yang baik, yaitu bagaimana agar sang anak menjadi anak yang baik, dapat diterima semua kalangan, dan sukses di masa depan. Dari gaya pola asuh, di antaranya ada 2 macam, yaitu otoriter dan demokratis. Sedangkan dari tujuan, juga ada 2 macam, yaitu tanpa tujuan serta mendidik dan membangun untuk tujuan tertentu.

 

  1. POLA ASUH ORANG TUA

 

  1. OTORITER

 

Salah satu dari macam-macam pola asuh adalah pola asuh bergaya otoriter. Apabila orangtua memiliki keinginan dan harapan yang tegas tentang apa saja yang harus dilakukan sang anak. Tak jarang orangtua bahkan menentukan pula, bagaimana anak harus bereaksi atau beropini terhadap suatu situasi atau kejadian. Pada umumnya anak kurang menyukai pola asuh semacam ini. Mereka menjadi kurang ekspresif dan aspiratif. Tak jarang mereka tidak tahan dan mencari komunitas lain di luar rumah, yang mau menerima mereka. Akan tetapi banyak juga anak yang cocok dengan pola asuh ini.

Mereka yang ingin memiliki tujuan jelas, tetapi belum memiliki arah atau preferensi sendiri dengan senang hati mengikuti apa yang orangtua tentukan. Mereka sangat yakin bahwa yang dikatakan orangtua pasti baik untuk mereka.

 

  1. DEMOKRATIS

 

Lain halnya dengan pola asuh demokratis. Orangtua memberikan seluas-luasnya hak pada anak untuk berpendapat dan bereaksi terhadap suatu situasi. Keluarga yang menerapkan pola asuh semacam ini, acap kali diadakan rapat keluarga, bahkan untuk hal-hal seperti menentukan warna cat rumah, di sini kamar siapa, di situ kamar siapa, susunan acara liburan, dan lain-lain.

Kebanyakan anak nyaman dengan pola asuh semacam ini karena merasa dilibatkan dalam menentukan kehidupan keluarga. Akan tetapi jika orangtua tidak menentukan batasan sejauh mana anak bisa bebas berekspresi, bisa juga ‘kecolongan’. Orangtua yang menerapkan pola asuh demokratis perlu menetapkan rambu-rambu bagi anak.

 

  1. TANPA TUJUAN

 

Sebagian orangtua membebaskan anaknya untuk menentukan arah kehidupannya. Semua mengalir begitu saja seperti air tanpa perencanaan yang jelas. Yang dilakukan di tiap-tiap masa pertumbuhan tidak menuju ke suatu arah tertentu, melainkan anak melakukan apa saja yang disenanginya pada saat itu. Pola asuh semacam ini biasanya tanpa sadar diterapkan oleh orangtua yang keduanya sibuk dengan pekerjaan, hingga tak lagi memiliki waktu untuk mengarahkan sang anak.

 

  1. ORIENTASI JELAS

 

Sebagian lagi menetapkan orientasi yang tegas bagi anak. Orangtua dengan pola asuh ini biasa membuat jadwal bagi anak. Mulai jadwal kegiatan sehari-hari, jadwal belajar di rumah, hingga peta hidup 10-15 tahun ke depan. Anak yang terbiasa dengan pola asuh semacam ini akan tumbuh dengan dinamis. Di kemudian hari mereka akan terbiasa berpikir sistematis dan penuh rencana.

Macam macam pola asuh anak bisa Anda pilih. Penentuan pola asuh anak sepenuhnya ada di tangan Anda. Sesuaikan dengan kondisi, pasangan, dan anak Anda. Jangan menyamaratakan semua anak.

Masing-masing mereka unik dan istimewa. Masa depan mereka ada di tangan Anda.

Memiliki anak adalah harapan yang sangat logis dari pasangan suami istri. Meskipun ada beberapa pasangan yang memutuskan untuk menunda memiliki anak karena alasan tertentu, tak sedikit pasangan yang merasa gelisah jika setelah satu tahun menikah tak juga ada tanda-tanda kehamilan.

Lantas, berbagai upaya pun ditempuh agar sang istri segera hamil. Mulai dari mengambil anak sebagai “pancingan”, menerapkan gaya hidup sehat, mengurangi beban kerja, hingga rutin berobat pada ahli medis. Setelah berhasil memiliki anak, fokus selanjutnya adalah pada cara mengasuh anak dengan penuh rasa cinta dan sayang. Mengasuh anak merupakan hal yang gampang-gampang susah. Bisa menjadi gampang, namun bisa juga menjadi susah. Tergantung pada cara orang tua menyikapinya.

 

  1. CINTA DAN SAYANG

 

Merupakan syarat mutlak dalam mengasuh anak. Anak tak hanya memerlukan pemenuhan kebutuhan fisik namun juga pemenuhan akan kebutuhan psikis. Anak tak hanya butuh diberi makan, minum susu, mainan, atau pakaian bagus. Anak juga butuh diberikan perhatian, dukungan, cinta, dan kasih sayang yang akan membuatnya merasa aman dan nyaman.

Meskipun gampang diucapkan, memberikan rasa cinta dan sayang ini tak selalu mudah. Orang tua sering beranggapan bahwa apa yang diberikan atau dilakukannya pada anak adalah ungkapan dari rasa cinta dan sayang mereka. Benarkah demikian? Coba simak ilustrasi berikut:

Melarang anak balita menyentuh kucing untuk melindungi anak dari bulu atau cakaran kucing. Karena cinta dan sayang atau terlalu protektif?

Sebenarnya tak apa-apa jika anak menyentuh kucing. Orang tua bisa ikut serta mengelus kucing tersebut serta memastikan kucing yang disentuh oleh anak adalah kucing jinak. Setelah memegang kucing, orang tua dapat mengajarkan anak mencuci tangan dengan sabun hingga bersih. Dengan menyentuh dan mengelus-elus kucing, anak bisa belajar menyayangi binatang.

Melarang anak ikut melakukan kegiatan rumah tangga agar anak tak kelelahan atau merasa dijadikan pembantu. Ungkapan cinta dan sayang atau malah membuat anak menjadi tak memiliki rasa tanggung jawab?

Sebenarnya, mengikutsertakan anak dalam kegiatan rumah tangga justru dapat melatih kemandirian dan rasa tanggung jawab si anak, misalnya: merapikan kamar sendiri, membereskan mainan,menyapu, mencuci piring, atau menyiangi sayuran. Jika orang tua merasa cinta dan sayang pada anaknya, maka orang tua juga harus menumbuhkan kemandirian dan rasa tanggung jawab pada diri anak.

 

Memberikan segala sesuatu yang diminta oleh anak. Karena cinta dan sayang atau malah menjerumuskan anak?

Orang tua tak perlu selalu mengabulkan permintaan anak. Anak sering meminta sesuatu hanya karena keinginan sesaat atau sekadar ikut-ikutan. Di sini orang tua dituntut untuk mampu menimbang secara bijaksana. Apakah anak benar-benar membutuhkan benda yang dimintanya? Apakah memberikan benda itu tak akan membahayakan anak? Anak yang berusia 2 tahun, misalnya, kerap seenak hati menunjuk mainan yang diinginkannya. Langsung membelikan? Sebaiknya perhatikan dulu apakah mainan tersebut cocok untuk usia anak. Mainan dengan banyak bagian-bagian kecil yang bisa dibongkar pasang sangat tidak dianjurkan karena anak pada usia ini masih suka memasukkan berbagai macam benda ke dalam mulut.

Mengasuh anak dengan rasa cinta dan sayang merupakan tanggung jawab yang mutlak disadari oleh orang tua. Anak adalah selembar kertas putih. Orang tua lah yang pertama kali menentukan tulisan dan warna yang akan digoreskan di atas kertas putih itu.

You May Also Like

2 thoughts on “SEMINAR DAN SMART PARENTING bersama Ustadaz DR. H. WIJAYANTO, MA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *