Kolom Parenting Psikologi

RENUNGAN MASA KECIL (1)

UNTUK MENDIDIK ANAK

 

Oleh: Adin Suryadin, Psi, M.Si

 

Ketika saya pulang ke kampung halaman, terkenang masa-masa kecil yang indah,  bermain di masjid, di sungai belakang rumah dan berbagai aktivitas belajar dan bermain mulai dari subuh setelah sholat subuh mengaji itu menjadi sebuah tradisi, dimana-anak-anak bersemanagat ke mushola-mushola atau ke rumah para ustadz untuk belajar membaca al Quran, hampir semua anak-anak pada saat itu selalu berebutan untuk mendapatkan ngaji yang pertama (walau ada sedikit niatan kecil agar bisa dapat kesempatan duluan mengambl buah-buahan yang jatuh di halaman belakang rumah ustadz). teringat pada saat itu saya terlambat datang untuk ngaji dan saya merasa kecewa dan sedih kenapa saya jadi yang terakhir sehingga banyak kedahuluan teman-teman. Semangat belajar itulah yang terus terbina menjadi suatu tradisi di lingkungan masyarakat dulu di kampng saya.

Setelah selesai ngaji ngaji kita bersiap untuk sekolah, ini juga merupakan tradisi berangkat ke sekolah bersama teman, jadi saya selalu berusaha siap sebelum jam 06.30 di depan rumah dan menunggu teman untuk jalan kaki bersama-sama ke sekolah yang jaraknya kurang lebih 2 km dari rumah. Tentu dengan persaan senang sambil bersenda gurau pada saat jalan ke sekolah maupun pada saat pulang dari sekolah.

Pulang dari sekolah seperti anak-anak yang lain ada yang istirahat siang atau bermaian bersama teman di sekitar rumah, kadang main petak umpet, main kelereng, dan anak puteri biasanya main pasar-pasaran atau main karet gelang dan bola bekel. Hampir semua unsur permaianan mengembangkan dan melatih sikap kerja sama, mengikuti aturan, melatih ketrampilan motorik kasar ataupun motorik halus, namun yang utama kita saat senang dan bahagia bisa bermain bersama teman.

Setelah sholat ashar hampir semua anak-anak usia sekolah dasar sampai usia SMP mengikuti sekolah agama di masjid-masjid terdekat atau di rumah-rumah para ustadz/ah, ada juga yang di madrasah-madrasah bagi masjid yang besar yang sudah ada madrasahnya. Kegiatan sekolah agama ini rata-rata selesai jam 17.00 atau jam 5 sore. Antara magrib dan isya biasanya kita bermain di sekitar masjid…….dari hari ke hari saat itu penuh dengan kebahagiaan dan ceria …kita bermain dan belajar tanpa merasa beban melakukannya. Sering juga kita nonton televisi di rumah tetangga sampai waktu sholat isya. Malam setelah isya kita habiskan waktu bersama orang tua dan saudara di rumah, makan bersama, belajar dan menyiapkan pelajaran untuk besok nya ngaji subuh dan sekolah. Kalau pas libur sekolah agama hari jumat siang sampai sore anak-anak sering bermain dan berenang di sungai belakang rumah yang saat itu airnya masih jernih…..rasanya ingin kembali ke masa itu.

Sekarang kampung halamanku sudah tidak seperti dulu lagi…rumah-rumah sudah semakin padat, berdempetan tapi tidak kelihatan aktivitas anak-anak bermain di halaman atau di pinggir jalan, setelah hampir semua rumah punya televisi dan banyak program tontonan chanel di televisi yang menyajikan tontonan yang menarik, aktivitas anak-anak semua di rumah masing-masing. Masjid dan mushola menjadi sepi di waktu-waktu yang bukan waktu sholat. Anak-anak kampung semakin banyak namun interaksi sosial diantara mereka semakin sedikit. Apalagi Gadget dan HP hampir semua orang memilikinya…mereka sibuk dengan dunianya masing-masing. Perilaku anak-anak semakin cuek dengan sekitarnya, tata nilai sopan santun dengan orang tua semakin diabaikan, dan bahkan banyak kejadian kenakalan pada anak-anak usia SD dan SMP.

Mana suasana kampungku yang dulu ? …..lingkungan yang selalu mendidikku denga tradisi yang menyibukkan anak-anak dengan belajar, mengaji dan bermain yang penuh dengan dinamika pelajaran yang dikandungnya. Dulu orang tua kita tidak akan takut anak-anaknya bermain ke luar rumah karena diluar rumah masjid dan madrasah lah yang akan mendidiknya, dulu orang tua kita tidak akan takut kalau kita nonton televisi di rumah tetangga karena di sana tidak ada pendidikan atau tontonan yang negatif. Dulu orang tua dan para guru serta ustadz/ah selalu sepaham dalam mendidik anak-anaknya, sehingga apabila kita dimarahi atau bahkan dipukul oleh guru dan ustadz kita, maka orang tua kita  pasti akan mendukungnya….sehingga kita tidak mungkin mengadu kalau di marahi atau di cubit oleh ustadz kita, karena kita akan mendapatkan kemarahan yang sama dari orang tua kita. Bahkan kita sering takut dan malu untuk melaporkan pada oang tua kita kalau kita dimarahin oleh ustadz kita.

Akhirnya saya tersadar dari lamunanku….sekarang saya adalah sudah jadi orang tua, bagaimana dengan anak-anak kita sekarang? Disaat kita selalu disibukkan dengan segudang aktivitas sehingga sering mangabaikan anak-anak kita, cukuplah anak-anak kita tenang sambil memegang HP dan atau nonton televisi agar tidak menganggu kita. Bermain keluar, lingkungan sekitar banyak tontonan yang negatif yang kita tidak mempercayainya, kita sebagai orang tua yang kadang terlalu sayang pada anak kita sehingga tanpa sadar kita telah memanjakan anak kita, maka apabila anak kita di marahin di sekolah atau di madrasah kita sering tidak terima. Pola seperti ini yang mengakibatkan karakter anak tidak terbentuk dengan baik, anak akan berusaha mengabaikan perintah guru atau ustadz/ah nya dengan alassan orang tuanya, demikian juga anak akan menentang orang tua dengan alasan sekolah atau lingkungan masyarakat sekitarnya. Dampaknya perilaku anak semaunya sendiri, dengan demikian kenakalan akan sering terjadi.

Terus sebaiknya kita harus bagaimana menghadapi keadaan seperti ini ?, ada beberapa tips yang bisa kita lakukan untuk mendidik anak kita dewasa ini:

  1. Bangun komunikasi dan interaksi sosial yang baik dengan anak – anak kita. Kita selalu berbicara dari hati ke hati dalam suasana yang santai dan rileks, luangkan kebersamaan dalam beberapa kegiatan dengan anak-anak kita
  2. Buatlah aturan yang jelas di rumah mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, juga aturan libur dan hari-hari tertentu.
  3. Buatlah aturan penggunaan HP atau Gadget pada anak-anak kita secara wajar dan terarah, misalnya penggunaan HP hanya pada sore setelah ashar sampai sebelum magrib. Waktu-waktu lainnya untuk berinteraksi dan beraktifitas bersama.
  4. Dukung dan kerja sama yang intensif dengan program-program sekolah anak-anak kita dan jauhkan dari lingkungan yang negatif.
  5. Masukan anak-anak kita ke pondok-pondok yang lingkungannya mendidik dan membiasakan anak mengikuti aturan dan etika agama, sehingga ahklak anak kita akan terbentuk sesuai aturan syariat.
  6. Budayakan tradisi beribadah dan tradisi belajar di rumah dengan cara kita memberikan contoh membaca dan belajar lainnya, agar anak-anak kita tetap semangat untuk belajar.
  7. Selalu mendoakan untuk kebaikan anak-anak kita.

Terakhir serahkan segala urusan hanya pada Allah, insya Allah selalu ada jalan.

Wallahu a’lam bishowab.

 

 

 

 

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *